Kediri, mbakdloh
Sepeninggal KH Asrori al-Ishaqi, dunia pesantren dan tasawuf di Indonesia kehilangan salah seorang tokohnya yang paling kharismatik. Tak berapa lama berselang, dunia pesantren kembali kehilangan salah seorang tokohnya yang ikhlas dan berjuang dengan keunikannya tersendiri.
Pengasuh Pondok Pesantren Mahir-Arriyadh Ringinagung, Kepung Kediri KH Zaid Abdul Hamid, meninggal dalam usia sekitar 90 tahun pada hari Selasa malam 18 Agustus 2009 sekitar pukul setengah sepuluh malam. Beliau adalah salah satu Mursyid Tharekat Syadziliyah di Jawa Timur.
Di mata para santri yang tinggal di pesantrennya saat ini, Kiai Zaid –begitu para santri akrab memanggilnya, adalah sosok yang sangat peramah dan penyayang terhadap para santrinya. Kiai Zaid juga dikenal sebagai ulama pembaharu ketika pada tahun 1980-an, mendirikan Pondok Pesantren Putri bernama Islahiyyatul Asroriyyah.
Menurut Burhan, salah seorang alumni Ringinagung, Kiai Zaid adalah seorang yang sangat wira’i dan tidak suka menggantungkan diri dan pesantrennya kepada bantuan orang luar terutama pemerintah.
”Dulu pernah, semasa hidupnya, jalan menuju ke pesantren akan dibangun dengan aspal oleh pemerintah setempat, namun justru Kiai Zaid tidak berkenan dan malah membangun akses ke pesantren dengan paving atas biayanya sendiri. Tentu saja para santri dan penduduk sekliling pun segera bergotong-toyong membantunya,” terang Burhan. (min)
Posted by andypoetera on 16 November 2009 at 20:37
ascum…gmn kbr di r.agung? aq ckrg di klmntn
Posted by ahmad on 26 Januari 2010 at 14:09
Assalamualikum.
Kami punya Guru yg sama wira’nya seperti KH Zaid, yaitu K.H Abdul Baits Muchtar, pengasuh Pesantren Al-Buruj di Jepara, dan ternyata beliau adalah dulunya murid KH. Zaid di Ringin agung. hal ini saya baca dalam buku beliau yang berjudul “HIDUP aadalah Seolah-Olah”. biasanya kalau Kiainya banyak wira’i dan hidup sederhana, akan bermanfaat dan nular ilmunya kepada murid-muridnyanya. mudah-mudahan orang seperti beliau-beliau akan melahirkan generasi Rabbni yang ikhlas berjuang di jalan Allah. Amin
Posted by waluyo on 21 Februari 2010 at 09:56
aaaaaaaaaaaaaaaaa
Posted by parsono agus waluyo on 21 Februari 2010 at 10:06
assalamualaikum kang kang piye kabare. aq cah karangpandan solo pernah sedelo neng ringin agung th 95 sampai 98.senajan sebentar teryata q dapt inspirasi yg banyak tentang kehidupan radio broadcast.istri.anak anak,aswaja,dll.oh ya waktu itu aku habiskan neng gubug kulon maqom marep ngetan yoiku gubug ke cah solo.juga tiap hari aku ke kandangan untuk cari rezeki di bengkel tv dan radio.sekarang hari hariku bergelut dengan antena dan radio fm juga tv untuk siaran.tlf 0271 7947140 atau ratusima_antena@yahoo.co.id
Posted by parsono agus waluyo on 21 Februari 2010 at 10:12
di ringinagung waktu itu aku suka siaran di radio fm yg aku rakit apalgi pas akhirussanah sekarang ada radio fm tidak ya di pondok
Posted by SA'UD ELGHONI on 24 Februari 2010 at 12:51
Saya pernah nyantri kilatan Ramadlan merasakan bimbingan beliau KH. Zaid Abdul Hamid. Beliau ulama yang alim dan wira’i. sangat sejuk tausiyahnya dan mbekas ing manah. setiap tutur kata beliau mengandung hikmah yang luar biasa. karismahnya mampu membius para santrinya untuk tumaknina di PPMA. saking besarnya kasih sayang beliau kepada santri, walaupun dalam keadaan sakit tetap mengaji.Komplek Pacitan arek Lamongan.
Posted by said on 3 Maret 2010 at 14:27
walaupun aku cuma sebentar ikut ngaji di r.agung, tapi aku bisa merasakan akan kezuhudan beliau, dan ketelatenan beliau dalam membimbing santrinya, beliau juga di kenal tidak suka marah……dari komplek blambangan…………………………..
Posted by H Zaenal Ali, SH on 6 Juni 2010 at 22:55
Assalamu’alaikum…
Saya ingin konfirmasi Bahwa Abah Zaed sebenarnya BUKAN MURSYID namun beliau adalah BADAL (Pembina Thoriqoh) yang telah dipercaya guru beliau untuk membina sebagian santri yang jumlahnya mencapai 10.000 lebih, dibagi sekitar 60 kelompok dan tersebar di penjuru Indonesia. Beliau murid dari Syeikh Mustaqim (Mursyid Syadziliyyah) dari Pondok PETA Tulungagung.
Sedikit tambahan info tentang kesederhanaan beliau bahwa, beliau sampai meninggal belum pernah menikmati empuknya kasur karena tidurnya hanya di amben. bahkan ketika di Makkah beliau tidur diatas Jurigen (tempat air minum) kosong yang ditata.
saya mewakili keluarga menyampaikan Terima Kasih dan merasa senang dengan adanya media sebaik ini…. Salam kangen buat Mbakdloh dari ibuk Is-As… Terimakasih, Wassalamu’alaikum…
Gus Zen (Hp: 081234440077)
RED. Terima kasih tambahan infonya juga ralatnya. Salam kembali buat ibu Is-As (?) saya kenal??
Posted by sorun on 16 Juli 2010 at 23:49
assalamu”alaikum kangge keluarga besar RINGIN AGUNG. SOBRUN CAH HIM.
Posted by sobrie on 25 September 2010 at 21:14
nyong mantan ringin agung luhhhhhhhhhhhhhhhhh
ra ketang mung dondon ngising nang kali
Posted by saefudin on 16 November 2010 at 08:43
aku pernah nyantri di ringin agung kmudian aq pindah ke surabaya…setiap aku ke ringin agung abah zaid pasty sll nanya pake bahasa indonesia ” KAPAN DATANGNYA” ya aku jawab aza pake bahasa indonesia….pdhal tradisi pesantren ga da yg pake bhs indonesia antara santri dg kyainya….SELAMAT JALAN ABAH SMOGA AMAL ABAH DITERIMA DI SISINYA N DOAKU SLL KUKUMANDANGKAN UNTUK BELIAU….
Posted by Santri Jadul on 28 Februari 2011 at 11:38
konfirmasi, Jalan Aspal bantuan Pemerintah tidak masuk, tapi perlu di ingat bahwa dana untuk pembanguan pafing dari camat pagu Cuk Hariono dan teman teman di Golkar… jadi tidak mau dana pemerintah tapi dana dari partai GOLKAR
Posted by ahsanunnida' on 3 Maret 2011 at 09:47
ghofarollohu lahu ……….
Posted by moch.yusuf A.R on 8 Maret 2011 at 19:28
ana alumni ringin agung
Posted by moch.yusuf A.R on 8 Maret 2011 at 19:30
ana kangen sama masa -masa ana dlu do ringn agung
Posted by adi on 16 Maret 2011 at 23:31
semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai orang yang berkumpul dengan beliau di akhirat.
Posted by muhammad rouyani on 1 April 2011 at 18:37
السلام عليكم
Salam kenal untuk semua, semoga Alloh terangi kubur Mbah Zaed, semoga kita dijadikanNya bisa menteladani amaliah Beliau.
Posted by afan on 6 April 2011 at 11:43
alhamdulillah sy bisa baca tulisan ini.karena aq mondok di ringinagung ketika mbah zaid sudah wafat.
Posted by Lud on 3 Mei 2011 at 16:28
Salam silaturrahim..
Alhamdulillah semoga generasi pemimpin seperti Allahyarham KH. Zaid Abdul Hamid akan selalu ada untuk memberikan pengayoman dan pengayeman sebagaimana beliau memimpin para santri dan masyarakat.
Balas
Posted by heri on 3 Agustus 2011 at 11:19
salam dari kudus…
Posted by Shohibphone Celluler Spc on 21 Oktober 2011 at 19:50
ass saya kagum dg kealiman nyaa krn sya tau sendiri belia benar ariff billah,abah hanya doa yg bs nanda brkn bwt njenengan nanda rinduuu bngt sama abah,wslm
Posted by khariroh on 28 Desember 2011 at 13:18
ya alloh subhanalloh, aq blum pernah merasakan rasanya m0ndok d ringinagung,
ghofaro lahu ya alloh
Posted by Cecen bandol on 29 Desember 2011 at 23:38
Kangen kro ringin agung,y wlopun biyen mung ngrasakna sedela.